Bersantai di pinggir pantai dan menikmati kehadiran burung burung camar di sekitar kita.
Saturday, August 2, 2008
Friendly Birds
Bersantai di pinggir pantai dan menikmati kehadiran burung burung camar di sekitar kita.
Saturday, July 19, 2008
Bahan Khotbah
Galatia 5:22
Pendahuluan:
Pohon tidak menghasilkan buah secara instan. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menanam apel dan memanen buahnya yang ranum? Banyak orang berpikir bahwa apabila kita berada dalam Roh, dibaptis dalam Roh, maka otomatis buah Roh akan muncul. Yang otomatis terjadi adalah Roh Allah, yang telah memerdekakan orang berdosa, aktif bekerja dalam pikiran, perasaan dan keinginan orang-orang percaya untuk melahirkan pikiran, perasaan dan perbuatan Kristus.
I. Buah Roh adalah hasil dari proses hidup yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Buah Roh tidak tumbuh secara alami dalam perangai manusia kita, namun berasal dari Roh. Roh Allah melahirkan Kristus (sifat-sifat Kristus) di dalam diri orang percaya (Rom 8:29-30).
a. Roh Allah mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya (Roma 8:9,11)
b. Orang percaya mengerjakan apa yang menjadi bagian-Nya. Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup (Rom 8:14).
II. Buah Roh adalah satu (tunggal) namun terdiri dari kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Kesabaran dan kemurahan adalah bagian dari buah Roh yang tidak terlepas dari kasih, sukacita, damai sejahtera, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri.
Tidak mungkin seseorang bisa menjadi sabar dan murah hati apabila ia tidak memiliki kasih, suka cita, damai sejahtera, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, danpenguasaan diri.
a. Kesabaran adalah kualitas ketahanan (makrothumia) seseorang dalam menghadapi provokasi dengan tidak gegabah untuk membalas atau menghukum. Kualitas ketahanan seseorang yang tidak tergantung pada situasi atau kalah terhadap pencobaan, hal itu berseberangan dengan patah semangat namun berhubungan dengan pengharapan. Kesabaran kita seringkali diuji, kita menjadi patah semangat dan hilang pengharapan apabila seseorang berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama. “Mana mungkin ia bisa berubah, lihat saja… dia melakukannya lagi kan!”
Ilust: Les Miserables, (Saksikan film tersebut pada cuplikan film tersebut di atas)
Victor Hugo menceritakan kisah Jean Valjean yang melakukan kejahatan pencurian roti untuk memberi makan anak-anak dari saudaranya yang kelaparan. Setelah dipenjara selama 19 tahun ia dibebaskan. Karena sulit mencari pekerjaan, ia pergi ke rumah seorang pendeta yang dengan baik hati memberikan makan malam dan mempersilahkannya untuk menginap. Terperangkap dalam pencobaan, ia mencuri perlengkapan makan yang terbuat dari perak milik pendeta tersebut dan kabur. Namun ia segera tertangkap dan dikembalikan ke penjara. Pendeta yang baik hati itu mengatakan, “Mengapa, saya memberikannya kepadanya. Dan Jean, kamu lupa membawa tempat lilinnya.” Jean terkejut dengan kebaikan yang sedemikian, dan hal ini telah menghasilkan pertobatannya. Sebuah perbuatan kebaikan telah membawa seorang berdosa kembali kepada Juruselamat (Encyclopedia of 7700 Illustrations, 2934).
b. Kemurahan adalah kualitas kebaikan (chrestotes) yang condong diucapkan dengan lembut, ramah, temperamen yang calm, berbudaya dan berbudi halus dalam karakter dan tindakan ( II Tim 2:24-26, Titus 3:1-2, Yak. 3:17).
Epigram: Seorang guru meminta kepada murid-muridnya untuk memberitahukan apa arti kemurahan hati. Seorang anak lelaki melompat dan mengatakan, “Begini, jika saya lapar dan seseorang memberikan saya sepotong roti, itu adalah kebaikan hati. Tetapi jika mereka memberikan selai di atasnya itulah menjadi kemurahan hati” (Encyclopedia of 7700 Illustrations, 2956)
III. Bagaimana memanifestasikan Kesabaran dan Kemurahan? Gal. 5:24-25
a. Rintangan: kedagingan dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (ay 24). Apa yang bertumbuh di kebun tanpa harus ditanam? Roma 7:18-19. Inilah yang akan terjadi apabila kita mengandalkan keinginan sendiri.


b. Jalan Keluar: Hidup dipimpin oleh Roh (ay 25)
Ilust: Bila kita menginginkan buah, maka kita harus lebih berusaha.
“When you are good to others, you are best to yourself,” Ben Franklin
Kolose 1:10-11, dan kamu memberi buah… dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.”
Penutup: Buah tidak akan menjadi rahasia dan tersembunyi, tetapi akan menyatakan kehadirannya. Setiap orang dilihat dari buahnya. Orang percaya tidak berjuang sendiri, tetapi Roh Allah yang luar biasa bekerja bersama dengannya untuk menghasilkan buah Roh. Orang percaya dapat bersandar pada Roh Allah dan menerima pertolongan-Nya
Sunday, June 22, 2008
Saturday, June 21, 2008
Tuesday, June 17, 2008
Thursday, May 1, 2008
Mencari Keadilan
Keadaan seperti di atas tidak hanya terjadi pada masyarakat sekuler saja, karena kenyataannya banyak anak-anak Tuhan, orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang adil, mencari keadilannya sendiri. Bahkan tidak jarang, manusia bertindak seperti Tuhan, merasa apa yang dipikirkannya adalah yang terbaik dan paling adil. Publik dapat membenarkan bahkan bersifat permisif terhadap tindakan mencari keadilan hingga pada taraf “menaruh tangan atas” atau “menyentuh” hidup seseorang.
Daud telah menghadapi pergumulannya menghadapi Saul yang tidak berlaku adil kepadanya, bahkan ingin membunuhnya. Ketika ia mendapat kesempatan untuk mencari keadilannya, Ia tidak menjamah Saul (I Sam. 24:11), tidak berani menjadi hakim dalam ketidak-adilan yang dihadapinya. Dia mengijinkan Tuhan yang menjadi hakim di antara dirinya dengan Saul. Dia ingin agar tangannya tetap bersih dari melakukan kejahatan. Bertindak sendiri dalam mencari keadilan dapat menjadi kejahatan dan noda yang mengotori tangan yang telah disucikan. Dalam kesadaran ia mengatakan, “Tuhan kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, Tuhan kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau… Tuhan kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya memperjuangkan perkaraku dengan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu” ( I Sam 24:13, 16). Daud tetap mempunyai tuntutan pemenuhan kebutuhan akan keadilan bagi dirinya, namun ia tidak mencarinya sendiri melainkan mengijinkan Tuhan yang akan memperjuangkan perkaranya. Hingga drama kehidupannya saat itu, Daud telah mampu menghadapinya dengan benar.
Perjalanan hidup telah membawa Daud kepada pengalaman yang lain setelah kematian Samuel. Pengalaman yang telah dijalaninya dengan kemenangan masih menghadapi ujian di kesempatan lain pada saat ia harus berhadapan dengan Nabal yang bebal. Apakah menghadapi orang yang berbeda, dengan kasus yang pada prinsipnya sama, ia harus berlaku sama? Lihatlah reaksi Daud pada saat mendengar laporan anak buahnya. “Kamu masing-masing sandanglah pedang! … Daud sendiripun menyandang pedangnya. (I Sam 25:13) Daud tadinya telah berkata: ‘Sia-sialah aku melindungi segala kepunyaan orang ini di padang gurun… ia membalas kebaikanku dengan kejahatan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum Daud, bahkan lebih dari pada itu…’” (I Sam 25:22). Sungguh berbeda sikap Daud ketika menghadapi Nabal. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah sikap itu tepat dan benar? Mencari keadilannya sendiri dapat menjadi bukti bahwa Daud sedang tidak mencegah apa yang Tuhan sendiri berusaha untuk meng
hindarkan daripadanya; melakukan hutang darah dan bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Perkataan Abigail berisi hikmat Allah, karena Daud sedang melakukan perang Tuhan dan tidak ada yang jahat terdapat pada dirinya selama hidupnya (I Sam 25:28b, 30-31). Namun, dalam permohonannya kepada Daud, perkataan Abigail telah mencegah Daud dari berbuat jahat. Daud menyadari dan mengakui kebijakan Abigail dalam usahanya untuk menahan Daud dari hutang darah dan dalam mencari keadilannya sendiri (I Sam 25:32-33). Apakah kebijakan itu hanya merupakan hikmat Abigail atau merupakan cara Tuhan untuk menghindarkan Daud dari perbuatan jahat?
Apakah Tuhan perduli dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang tidak adil atau oleh orang mencari keadilan? Kenyataan dalam kisah Daud ini telah membuktikan bahwa Tuhan perduli dan Dia bertindak. Dialah satu-satunya hakim yang benar. Dia ingin menghindarkan orang benar dari berbuat kejahatan dalam mencari keadilan, namun Dia tetap menegakkan keadilan dan tidak berdiam diri. Bolehkah kita mencari keadilan? Jawabnya boleh, namun tidak mencari keadilan kita sendiri, apalagi sampai “menodai tangan”. Bawalah kasus kita ke dalam pengadilan Tuhan, ijinkan Tuhan yang menjadi pembela kita dan mencegah kita dari berbuat jahat ( I Sam. 25:39). Percaya bahwa Tuhan akan bertindak. Keadilan Tuhan akan semakin dirasakan apabila Tuhan bertindak dalam keadilan-Nya untuk membela kita dan menjaga hidup kita tetap bersih dari kejahatan.
Pengalaman Daud dengan hikmat Abigail dalam kasus Nabal telah menjadi salah satu pengalaman yang mendahului kemenangan-kemenangan Daud dalam menghadapi ketidak adilan yang dialaminya, baik yang dilakukan oleh Saul maupun Absalom (I Sam.26-31; II Sam) Bahkan pengalaman hidupnya membuktikan bahwa apa yang telah dicapainya telah membuahkan kebaikan bagi keturunan Saul yang telah menyakitinya.
Kisah Daud ini mengingatkan kita bahwa ketika kita menghadapi ketidak-adilan, kita tidak perlu memaksakan keadilan kita sendiri; kita dapat mempercayai Tuhan untuk menegakkan keadilan-Nya dan menjaga hidup kita tetap bersih dan berkenan kepada-Nya. Kiranya Tuhan menolong kita.



